Versi ringkas artikel ini dipublikasikan di Kompas Edisi Jawa Timur. Sejak hari ini, Senin 14 Juli 2008, Kompas Edisi Jawa Timur akan menampilkan 3 artikel yang membahas psikografi calon gubernur, psikografi calon wakil gubernur dan perpaduan pasangan tersebut. Kelima pasang akan dipublikasikan mengikuti nomor urut. So, ikuti terus di Kompas Jatim sampai hari jumat (18 Juli 2008)
Mengenal calon sebagai kawan dekat kita
Andaikan kita mengenal setiap calon gubernur dan wakil gubernur jawa timur seperti kita mengenal kawan dekat anda. Andaikan kita mengenal mereka sebagai seorang manusia biasa, bukan sebagai politisi, pejabat pemerintah, ulama, pengusaha atau peran mereka di masyarakat. Apa yang akan terjadi? Bagaimanakah anda membayangkan kepemimpinan mereka?
Era reformasi membuka pintu keterbukaan begitu luasnya. Informasi membanjiri masyarakat tiap saat, tiap waktu. Setiap orang, setiap tokoh bisa menyebarkan berbagai informasi dalam segala macam bentuknya. Apalagi dalam konteks pilkada, menjadi sebuah kewajaran bila setiap kandidat saling bersaing menyajikan informasi yang menguntungkan diri dan dengan cara yang memikat.
Di sisi sebaliknya, para pengamat dan kritikus akan menyampaikan informasi yang berbeda arahnya. Kebanyakan akan memaparkan penilaian negatif terhadap kandidat, bahwa kandidat A lemah dalam berkomunikasi, kandidat B itu kurang tegas.
Apakah sungguh berbeda informasi yang disampaikan oleh kedua belah pihak itu? Arahnya berbeda. Tapi sifatnya sama. Informasi yang disajikan sudah merupakan pembandingan kandidat dengan suatu standar tertentu. Akibatnya, keunggulan dan kelemahan kandidat adalah perkara memilih suatu standar. Nah, pertanyaannya apa standar yang paling tepat? Siapa yang berhak menetapkan standar itu?
Bicara demokrasi. Rakyatlah yang berhak. Setiap orang bisa, setiap pembaca bisa, menetapkan sesuai dengan selera masing-masing. Dalam kerangka itu, tim riset LP3T Fakultas Psikologi Universitas Airlangga melakukan riset dan memaparkan hasilnya kepada publik. Riset dilakukan untuk memahami setiap kandidat sebagai manusia biasa dengan segala macam keunikannya, selayaknya warga jawa timur lainnya.
Riset ini dilakukan oleh suatu tim yang terdiri dari 9 periset dan 13 asisten periset. Periset terdiri dari Budi Setiawan M., M.Psi, Ilham Nur Alfian, M.Psi, Drs. Ino Yuwono, MA, Wiwin Hendriani, M.Si, Iwan Wahyu Widayat, M.Psi, Herison Purba, S.Psi, Dimas Aryo Wicaksono, S.Psi, Andri Firdaus, S.Psi dan Putut Angga S.Psi. Sementara asisten periset terdiri dari 13 mahasiswa tingkat akhir yang telah dilatih sebelumnya. Continue Reading »